Gugatan Antipakat Terhadap Valve Ditolak

Gugatan Antipakat/Antitrust telah mendapatkan perhatian yang cukup banyak dalam beberapa tahun terakhir ini, dimana salah satu contoh gugatan tersebut adalah kasus Epic Games melawan Apple, dan Google. Meski terlihat sukses untuk Epic Games, namun membuktikan sebuah tindak monopoli bukanlah sesuatu yang mudah. Dan hal ini kembali diperlihatkan terhadap kasus yang melibatkan Valve dan Steam, dimana Steam digugat oleh pihak Wolfire Games. Yang berakhir Hakim John C. Coughenour menolak kasus tersebut.

Gugatan mengenai monopoli atau antipakat oleh Wolfire Games berakhir pada hari Jumat kemarin ketika Hakim yang memimpin menyetujui mosi Valve untuk memberhentikan, meski dengan sejumlah catatan. Dalam penolakannya, Hakim Coughenour menjelaskan bahwa klaim antimonopoli harus menuduh empat poin utama. Salah satunya adalah adanya dugaan yang memberikan dampak kepada penggugat, yang dalam hal ini adalah Wolfire. Hakim menyatakan bahwa Wolfire tidak cukup “mengartikulasi fakta yang cukup.” Dengan demikian, kasus tersebut belum dapat menetapkan “klaim yang dapat memberikan keringanan,” dan hakim tidak punya pilihan selain menolak gugatan tersebut.

Wolfire memang menuduh bahwa mereka mendapatkan kerugian seperti yang di klaim dalam Calss Action Complaint, namun Hakim Coughneour tidak menemukan nilai dari klaimnya. Mengacu kepada biaya yang diberikan oleh Steam, Hakim mencatat bahwa Valve telah menggunakan biaya 30% yang sama sejak tahun 2001 ketika distribusi digital berada dalam “kondisi baru.” Dengan kata lain, biaya yang dibebankan oleh Valve ini tidak terbukti sebagai upaya dalam mengekspresikan monopoli pasar. Wolfire juga menuduh tindakan Valve telah membuat output dan kualitas game yang lebih rendah. Namun, Valve dapat menunjukan bagaimana beberapa game yang dirilis di Steam telah meningkat secara konsisten. Namun, Hakim tidak memberikan komentar mengenai kualitas game.

Satu detail tambahan adalah Hakim tidak mengabaikan kasus tersebut. Ia memberikan izin kepada Wolfire untuk dapat kembali mengajukannya di masa depan, selama hal itu mebahas masalah yang sama dalam penolakan ini. Namun, Wolfire hanya memiliki 30 hari saja setelah 19 November untuk kembali mengajukan gugatan.

Kasus milik Wolfie ini, sama seperti dengan kasus Epic melawan Apple, yang menuduh bahwa Valve telah membangun market anti persaingan dengan Steam. Valve diduga melakukan “praktik anti-persaingan” untuk mempertahankan dominasi di market, sehingga memungkinkannya untuk memaksa para publisher game membayar “biaya suprakompetitif.”

Sumber: Gamerant

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More