Yoshinori Kitase Menangis Ketika Pertama Kali Memainkan Final Fantasy X

Dalam sebuah wawancara dengan Famitsu, anggota inti dari staff pengembangan untuk game Final Fantasy X mengungkap detail baru mengenai pengembangan game tersebut. Detail tersebut termasuk komentar mengenai konseptualisasi dari ceritanya. Selain itu, interview Final Fantasy X ini mengungkap bagaimana perasaan yang dirasakan oleh Yoshinori Kitase, Tetsuya Nomura, Motomu Toriyama, dan Kazushige Nojima mengenai game ini.

Bagian pertama dari interview tersebut sebagian besar berfokus kepada konseptualisasi dari karakter. Termasuk desain karakter, terutama Tidus, dan peran awal dari beberapa karakter. Contoh, Peran Auton adalah seorang karakter yang diam, kemudian berubah akibat perannya di cerita.

Sedangkan pada bagian kedua berfokus kepada konseptualisasi cerita game tersebut. Kazushige Nojima, Scenario Writer untuk FF X, mengungkapkan bahwa bagian cerita “anak dan orang tua” merupakan yang terakhir di tambahkan. Cerita tersebut selalu dimaksudkan untuk berfokus kepada perjalanan Yuna sebagai seorang summoner. Dari sana, Spira dicbuat. “Permusuhan” antara Tidus dan Jecht juga ditambahkan kemudian. Selain itu, cerita dikonseptualisasikan dengan fokus pada sejarah yang terus berulang seperti sebuah “spiral.”

Nojima juga menyebutkan bahwa pada saat awal pengembangan FF X, ia sedang membaca diari dari para anggota unit kamikaze. Ia mengatakan bahwa kepasrahan dan tekad dari para anggota tersebut adalah inspirasi untuk inti Final Fantasy X. Disebutkan juga bahwa Tidus sengaja digambarkan sebagai orang luar dari cerita, dan Nojima menginginkan Tidus menjadi sebuah proyeksi para pemain.

Wawancara tersebut juga mengungkapkan bahwa Yoshinori Kitase, Producer dari Final Fantasy X, menangis ketika memainkan game tersebut untuk pertama kalinya. Ia mengatakan bahwa cerita antara Tidus dan Jecht lebih mengharukan dibandingkan cerita Tidus dan Yuna. Ia juga terkejut dnegan kualitas akting suara untuk versi Jepang. Para developer kemudian menyebutkan bahwa cerita dari game inilah yang membuatnya begitu diingat bahkan setelah 20 tahun.

Sumber: Siliconera

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

%d blogger menyukai ini: